Liburan
telah usai, kini saatnya anak-anak kembali beraktivitas. Bagi orang tua yang
memiliki balita, momen mengantar anak masuk sekolah di jenjang Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK) atau
menitipkannya di daycare (tempat penitipan anak) tentu membutuhkan
kesiapan ekstra. Pasalnya, di tengah padatnya interaksi para balita ini, ada
satu penyakit menular yang sangat mudah menyebar.
Selama ini, masyarakat awam sering salah
kaprah menyebut wabah ini sebagai Flu Singapura.
Sebutan tersebut sebetulnya keliru karena penyakit ini tidak berasal dari
negara itu dan sama sekali bukan bagian dari keluarga virus influenza.
Penamaan medis yang benar dan lebih akurat adalah HFMD. Secara sederhana, HFMD
adalah singkatan dari Hand, Foot, and Mouth Disease.
Belakangan ini, lonjakan kasus HFMD di Indonesia cukup menarik sorotan. Berdasarkan laporan surveilans nasional hingga pertengahan tahun 2026, sudah tercatat hampir 15.000 kasus HFMD tersebar di berbagai wilayah.
Mengapa
Balita Paling Rentan Tertular?
Kasus HFMD memang sangat
identik dengan anak usia di bawah lima tahun. Kelompok usia balita jauh lebih
berisiko dibandingkan anak yang sudah lebih besar. Di fasilitas seperti daycare
atau prasekolah, balita cenderung belum memahami pentingnya kebersihan diri.
Mereka masih sering memasukkan benda atau mainan ke dalam mulut, berbagi
makanan, dan melakukan kontak fisik jarak dekat.
Selain itu, transmisi
juga sering terjadi di dalam rumah. Kakak yang sudah rutin pergi ke sekolah
dasar bisa saja berinteraksi dengan pembawa virus tanpa ia sendiri jatuh sakit
(karena imunnya sudah lebih kuat), lalu tanpa sengaja membawa pulang virus
tersebut dan menularkannya kepada sang adik yang masih balita. Penularan ini
terjadi lewat percikan liur, cairan dari lepuhan kulit, hingga kotoran (feses)
saat mengganti popok.
Ciri-Ciri yang Perlu Diperhatikan
Pada 1-2
hari pertama, gejala HFMD sangat mirip dengan radang tenggorokan atau infeksi
virus biasa, sehingga sering kali mengecoh. Berikut adalah fase gejala yang
perlu Ayah dan Bunda cermati:
Fase
Awal: Anak
tiba-tiba demam, mengeluh sakit tenggorokan, terlihat lesu, dan mendadak mogok
makan.
Fase
Luka Mulut: Setelah
beberapa hari, akan muncul sariawan atau luka kecil di area dalam
mulut, lidah, atau gusi. Luka ini rasanya sangat perih.
Fase
Ruam Kulit: Tahap
selanjutnya adalah munculnya bintik merah atau lepuhan kecil berair di
telapak tangan, telapak kaki, sela-sela jari, dan tak jarang menyebar hingga ke
bokong atau lutut.
Lepuhan ini
biasanya tidak gatal, tapi dapat membuat si kecil merasa tidak nyaman.
Tantangannya adalah rasa sakit di mulut yang membuat anak menolak makan dan
minum. Jika dibiarkan, ini bisa memicu dehidrasi parah.
Apakah HFMD Berbahaya?
Pada umumnya, infeksi HFMD bersifat ringan dan
self-limiting disease, artinya sistem kekebalan tubuh anak bisa
membasminya sendiri dalam waktu 7 hingga 10 hari. Ayah dan Bunda bisa melakukan
perawatan mandiri di rumah dengan memastikan anak beristirahat cukup dan cairan
tubuhnya terpenuhi
Namun, kita
tidak boleh menyepelekannya. Pada beberapa kasus khusus, terutama yang
disebabkan oleh strain virus EV71, infeksi bisa memburuk dan memicu
komplikasi fatal. Komplikasi ini bisa berupa radang otak (ensefalitis), radang selaput otak
(meningitis), hingga infeksi otot jantung. Oleh
karena itu, observasi ketat dari orang tua sangat dibutuhkan.
Baca Artikel Lainnya: Komplikasi Flu Singapura yang Mesti Anda Waspadai
Langkah Perlindungan untuk si Kecil
Melindungi
anak dari HFMD harus dimulai dari kebiasaan sederhana setiap hari:
- Budaya Cuci Tangan: Ajarkan anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,
terutama sebelum makan dan sehabis dari toilet.
- Jangan Berbagi Barang Pribadi: Ingatkan anak untuk menggunakan botol minum
dan alat makan milik sendiri selama di sekolah.
- Rutin Bersih-bersih: Rajinlah membersihkan mainan dan permukaan meja di rumah dengan cairan
disinfektan yang aman.
- Isolasi Mandiri: Jika anak demam dan mulai muncul ruam, biarkan ia beristirahat di rumah
sampai benar-benar sembuh agar teman-teman sekelasnya tidak ikut tertular.
Baca Artikel Lainnya: Penanganan Flu Singapura
Perkuat Perlindungan dengan Vaksinasi
Selain
menjaga kebersihan, ilmu kedokteran
kini telah menghadirkan solusi pencegahan tambahan yang sangat bermanfaat.
Telah tersedia vaksin yang dirancang khusus untuk menangkal Enterovirus 71
(EV71), yakni penyebab utama komplikasi berat pada HFMD.
Walaupun tidak bisa
mencegah seluruh jenis virus penyebab Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut, vaksin EV71 ini sangat direkomendasikan bagi balita, terutama
mereka yang sehari-harinya dititipkan di daycare atau mulai aktif di
lingkungan prasekolah. Konsultasikan dengan dokter spesialis anak mengenai
jadwal pemberian dan kecocokan vaksin dengan kondisi kesehatan buah hati Anda.
Apabila
anak mengalami demam yang disertai sariawan atau ruam pada tangan dan kaki,
segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Jika Kamu
ingin memberikan perlindungan tambahan kepada Si Kecil melalui vaksinasi,
lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui apakah vaksin EV71 sesuai dengan usia dan kondisi
kesehatan anak.
Kini Kamu
dapat melakukan reservasi vaksin dengan lebih praktis melalui Vaccination Hub di KlikDokter. Pilih jadwal dan lokasi
vaksinasi yang sesuai, sehingga persiapan anak kembali ke sekolah menjadi lebih
mudah dan nyaman.
World
Health Organization. Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD).https://www.who.int
Centers for Disease Control and Prevention. Hand,
Foot, and Mouth Disease (HFMD).https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth
Ooi MH,
Wong SC, Lewthwaite P, et al. Clinical Features, Diagnosis, and Management of
Enterovirus 71. The Lancet Neurology. 2010;9(11):1097–1105.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20884246/
Laporan
Surveilans HFMD Indonesia 2026 (ringkasan data kasus nasional).
:format(webp)/article/qLuZfqrz-rgSw-MND8dLE/original/8nrelsj6u8gy2t9vgiw7q6dubhyry7hn.jpg)