Perawatan Wanita

Penyebab Rasa Terbakar pada Vagina

dr. Sara Elise Wijono MRes, 25 Sep 2026

Ditinjau Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes

|★0/5.0(0 Ulasan)

Vagina terasa panas dan terbakar jangan diabaikan. Kenali 11 penyebab Miss V terasa panas dan gatal berikut ini agar bisa diobati dengan tepat.

Penyebab Rasa Terbakar pada Vagina

Vagina gatal dan panas seperti terbakar cukup umum terjadi. Selain menimbulkan ketidaknyamanan, kondisi vagina panas dapat menandakan adanya penyakit pada organ intim.

Nah, kenapa vagina terasa panas? Ada beragam penyebab vagina terasa panas, mulai dari iritasi, lecet, infeksi akibat jamur dan bakteri, dan sebagainya.

Agar lebih paham, kenali lebih jauh yuk penyebab miss V gatal seperti terbakar di bawah ini: 

1. Iritasi

Penyebab vagina terasa panas bisa karena iritasi. Hal ini terjadi karena gesekan antara kulit vagina dengan benda tertentu, seperti sabun mandi, sabun vagina, mainan seks, dan sebagainya.

Jenis iritasi vagina yang bisa kamu alami adalah dermatitis kontak. Selain memicu rasa terbakar, gejala dermatitis kontak menimbulkan rasa gatal, kemerahan, dan nyeri. 

Iritasi vagina bisa dicegah dengan menghindari bahan-bahan yang bisa menyebabkan iritasi, terutama wewangian. Dalam beberapa kasus, iritasi vagina mungkin pula diatasi menggunakan obat-obatan tertentu.

Artikel lainnya: Perubahan Bentuk Vagina Sebelum Hamil dan Setelah Melahirkan

2. Vaginosis Bakterialis

Bacterial vaginosis (BV) terjadi ketika ada terlalu banyak jenis bakteri di vagina. Bakteri ini nantinya akan memengaruhi keseimbangan pH normal area kewanitaan. 

Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, BV adalah infeksi vagina paling umum yang menjangkiti wanita berusia 15-44 tahun. Menderita BV dapat meningkatkan risiko penyakit menular seksual. 

Gejala BV yang bisa dikenali adalah rasa terbakar di vagina. Keluhan ini juga bisa muncul ketika buang air kecil. Selain rasa terbakar, terdapat beberapa gejala lain yang bisa menjadi tanda vaginosis bakteri, seperti nyeri, gatal, bau amis, dan keputihan tidak normal.

3. Infeksi Jamur

Infeksi vagina yang disebabkan oleh jamur dapat menyebabkan sensasi terbakar. Kondisi ini disebut pula sebagai kandidiasis. 

Gejala kandidiasis bermacam-macam, seperti vagina terasa panas, gatal, sakit saat berhubungan seks dan buang air kecil, keluar cairan dari vagina, dan sebagainya.

4. Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih (ISK) kemungkinan akan menimbulkan rasa terbakar di vagina saat buang air kecil. 

Tidak hanya itu, gejala ISK juga meliputi sering buang air kecil, nyeri saat buang air kecil, muncul darah pada urine, dan sakit perut bagian bawah. 

Jika mengalami infeksi saluran kemih, dokter biasanya meresepkan antibiotik. Secara umum, infeksi akan hilang dalam waktu sekitar lima hari setelah pengobatan dimulai.

5. Trikomoniasis

Penyebab daerah miss v terasa panas berikutnya adalah trikomoniasis. Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual akibat parasit Trichomonas vaginalis. Penularannya terjadi dari satu orang ke orang lain selama berhubungan seksual. 

Gejala trikomoniasis dapat meliputi vagina terasa panas, gatal, kemerahan, dan nyeri saat buang air kecil.

6. Gonore

Gonore terjadi ketika bakteri Neisseria gonorrhoeae menginfeksi selaput lendir, seperti leher rahim, rahim, dan saluran tuba. 

Gonore biasanya ditularkan melalui kontak seksual dengan orang yang sedang terinfeksi. Kondisi ini bisa terjadi pada wanita berusia 15-24 tahun. 

7. Chlamydia

Chlamydia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Biasanya penyakit ini ditularkan melalui kontak seksual. 

Menurut data CDC, setidaknya 70 persen orang dengan klamidia tidak mengalami gejala. Namun, ketika gejalanya muncul, penderitanya akan mengalami vagina terasa panas, gatal, volume keputihan meningkat, serta sakit saat berhubungan seks dan buang air kecil. 

Karenanya, chlamydia dikenal pula sebagai silent infection. Klamidia biasanya diatasi dengan pemberian antibiotik. Konsultasikan kepada dokter mengenai dosis yang tepat, ya!

8. Herpes

Herpes genital disebabkan oleh kontak kulit dengan orang yang memiliki virus herpes. Wanita dinilai lebih rentan terhadap infeksi ini dibanding pria.

Begitu seseorang terjangkit virus herpes, virus ini akan berada di dalam organ intim. Virus mungkin tidak mengembangkan tanda atau gejala apa pun sampai ia menjadi aktif. 

Ketika virus herpes aktif, penderitanya akan mengalami sensasi terbakar, gatal hebat, organ intim bengkak, rasa sakit pada vagina, terutama saat buang air kecil, dan keputihan. 

Luka dan kemunculan bintik juga bisa dialami wanita pengidap herpes. Gejala herpes masih bisa diatasi dan dicegah dengan obat antivirus.

Artikel lainnya: Bentuk Vagina seperti Jengger Ayam, Normalkah?

9. Menopause

Menopause adalah kondisi berhentinya siklus menstruasi wanita secara alami. Menopause juga bisa menjadi penyebab vagina terasa terbakar. 

Umumnya, rasa panas pada vagina akibat menopause hanya terjadi sementara dan tidak berbahaya.

10. Alergi Kontak Kelamin

Sistem kekebalan beberapa wanita bisa menjadi hipersensitif terhadap zat tertentu. Zat-zat ini dapat menyebabkan iritasi alergi ketika bersentuhan dengan vagina. Contoh zat yang dimaksud, yaitu air mani, cairan pada kondom, dan sebagainya. 

Jika mengalami alergi kontak kelamin, konsultasikan dengan dokter untuk pengobatan yang tepat. 

11. Lichen Sclerosus

Lichen sclerosus disebabkan peradangan jangka panjang pada kulit. Menurut studi yang dimuat International Journal of Women’s Health, kondisi ini umumnya terjadi pada area kelamin. 

Nyeri pada vulva (bagian luar organ seksual wanita) adalah salah satu gejala yang paling sering dikeluhkan. Selain itu, sering muncul keluhan gatal pada kelamin pengidap lichen sclerosus. Jika diamati, akan terlihat lesi berwarna putih pada area kelamin.

Jadi, Apa Saja Penyebab Vagina Terasa Panas dan Gatal?

Sensasi panas dan gatal pada area kewanitaan dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari iritasi hingga infeksi, antara lain:

  • Iritasi & Alergi: Reaksi dermatitis kontak akibat gesekan atau paparan bahan kimia tertentu (seperti sabun kewanitaan, detergen, wewangian, atau cairan pada kondom).
  • Infeksi Jamur & Bakteri: Kandidasis (infeksi jamur), bacterial vaginosis (ketidakseimbangan bakteri di vagina), serta infeksi saluran kemih (ISK).
  • Penyakit Menular Seksual (PMS): Trikomoniasis (infeksi parasit), gonore dan klamidia (infeksi bakteri), serta herpes genital (ditandai dengan lentingan, nyeri, dan rasa terbakar hebat).
  • Kondisi Hormonal & Peradangan Lainnya: Menopause (penurunan kadar estrogen) serta lichen sclerosus (peradangan kulit kronis di area vulva).

Kondisi ini tidak dapat disembuhkan. Namun, bisa dikontrol gejalanya agar tidak menyebabkan perburukan melalui terapi.

Bila kamu vagina terasa panas ataupun mengalami keluhan lainnya pada organ kewanitaan, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin. 

Jaga Kesehatan Kamu dan Keluarga Lebih Praktis Bersama KlikDokter

Ingin membaca artikel lebih mudah, belanja produk kesehatan di official shop KlikDokter, atau memantau tips medis harian? Yuk, unduh aplikasi KlikDokter sekarang juga. Jangan lupa juga untuk terhubung dengan seluruh media sosial kami melalui:

👉 [Kunjungi Tautan Resmi KlikDokter di Sini]

(ADT/JKT)

Vagina
  • International Journal of Women's Health. Diakses 2022. Vulvar lichen sclerosus: Current perspectives. International Journal of Women's Health. 
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Sexually transmitted infections treatment guidelines, 2021. U.S. Department of Health and Human Services.
  • American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). ACOG practice bulletin no. 215: Vaginitis in nonpregnant patients. Obstetrics & Gynecology, 135(1), e1-e17.
  • Mayo Clinic Staff. (2022). Vaginal burning: Causes and when to see a doctor. Mayo Foundation for Medical Education and Research
Memuat...

Ulasan Pembaca

0(0 Ulasan)