Jerawat tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi kulit. Hormon, produksi minyak berlebih, faktor genetik, stres, hingga pola makan dapat ikut berperan. Karena itu, ketika jerawat muncul berulang, tidak sedikit orang mulai memperhatikan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Namun, apakah benar ada makanan yang harus dihindari saat berjerawat?
Jawabannya tidak sesederhana menghilangkan satu jenis makanan dari menu. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pola makan tertentu dengan jerawat, terutama makanan dengan indeks glikemik tinggi. Sementara itu, hubungan antara konsumsi produk susu dan jerawat masih terus diteliti.
1. Makanan dan Minuman Tinggi Gula
Makanan tinggi gula termasuk kelompok yang sebaiknya dibatasi jika Kamu sedang mengalami jerawat. Contohnya:
- Minuman bersoda dan minuman manis
- Teh atau kopi dengan banyak gula
- Permen
- Donat dan kue manis
- Biskuit
- Sereal dengan kandungan gula tinggi
Makanan tersebut dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Pola makan dengan beban glikemik tinggi diduga dapat memengaruhi insulin, faktor pertumbuhan seperti IGF-1, produksi sebum, serta proses peradangan yang berkaitan dengan munculnya jerawat.
2. Karbohidrat Olahan
Bukan berarti semua karbohidrat harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan porsinya.
Roti tawar putih, nasi putih dalam jumlah besar, keripik kentang, kentang goreng, serta berbagai makanan berbahan tepung olahan termasuk makanan dengan indeks glikemik relatif tinggi.
Sebagai alternatif, Kamu dapat memilih sumber karbohidrat yang lebih kaya serat seperti oatmeal, kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian utuh. Pola makan dengan indeks glikemik lebih rendah dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan jumlah jerawat yang lebih sedikit.
3. Susu Sapi
Susu sapi merupakan salah satu makanan yang cukup sering dibahas dalam kaitannya dengan jerawat.
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara konsumsi susu sapi dan peningkatan risiko jerawat, termasuk pada susu rendah lemak dan susu skim. Namun, hasil penelitian mengenai produk susu secara keseluruhan masih belum konsisten. Bahkan, American Academy of Dermatology menyebut belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa yoghurt atau keju meningkatkan jerawat.
Karena itu, tidak semua orang yang berjerawat perlu berhenti mengonsumsi susu. Jika Kamu merasa jerawat lebih sering muncul setelah mengonsumsi susu, Kamu dapat mencatat pola tersebut dan mendiskusikannya dengan dokter atau ahli gizi.
4. Makanan Ultra-Proses
Makanan ultra-proses seperti makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, dan produk dengan kandungan gula serta karbohidrat olahan tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Bukan berarti makanan tersebut secara langsung menyebabkan jerawat. Namun, pola makan yang didominasi makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan dapat berkontribusi pada pola makan dengan beban glikemik tinggi yang berpotensi memperburuk jerawat pada sebagian orang.
5. Apakah Cokelat Harus Dihindari?
Cokelat sering dianggap sebagai penyebab jerawat. Padahal, hubungan keduanya belum dapat disimpulkan secara sederhana.
Produk cokelat yang tinggi gula dan lemak memang dapat menjadi bagian dari pola makan yang kurang ideal. Namun, menyalahkan cokelat sebagai satu-satunya penyebab jerawat tidak didukung bukti yang cukup kuat.
Jika ingin mengonsumsinya, perhatikan jenis, kandungan gula, dan porsinya.
Apa yang Sebaiknya Dimakan Saat Berjerawat?
Daripada hanya berfokus pada makanan yang harus dihindari saat berjerawat, penting juga membangun pola makan yang lebih seimbang. Perbanyak:
Sayuran dan buah
Kacang-kacangan
Biji-bijian utuh
Sumber protein berkualitas
Air putih
Pola makan sehat tidak dapat menggantikan pengobatan jerawat, tetapi dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan tubuh dan kulit secara keseluruhan.
Baca Artikel Lainnya: 10 Makanan Sehat yang Bikin Wajah Bebas Jerawat
Jangan Hanya Mengandalkan Perubahan Pola Makan
Diet bukan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya jerawat. Perawatan kulit yang tepat dan terapi medis tetap penting, terutama jika jerawat sedang, berat, meradang, atau meninggalkan bekas.
American Academy of Dermatology merekomendasikan beberapa terapi dengan bukti yang lebih kuat, seperti benzoyl peroxide, retinoid topikal, salicylic acid, dan azelaic acid, sesuai kondisi pasien.
Jadi, tidak perlu melakukan diet ekstrem hanya karena mengalami jerawat. Lebih baik perhatikan pola makan secara keseluruhan dan amati apakah terdapat makanan tertentu yang konsisten berkaitan dengan munculnya jerawat.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan dan tips perawatan kulit lainnya? Kunjungi dan ikuti media sosial KlikDokter untuk mendapatkan berbagai edukasi kesehatan yang mudah dipahami dan telah didukung oleh informasi medis terpercaya.
- American Academy of Dermatology. Can the Right Diet Get Rid of Acne? Available from:https://www.aad.org/public/diseases/acne/causes/diet
- American Academy of Dermatology. American Academy of Dermatology Issues Updated Guidelines for the Management of Acne. Available from:https://www.aad.org/news/updated-guidelines-acne-management
- Meixiong J, Ricco C, Vasavda C, Ho BK. Diet and Acne: A Systematic Review. Journal of Drugs in Dermatology. 2022. Available from:https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35373155/
- American Academy of Dermatology. Acne: Tips for Managing. Available from:https://www.aad.org/public/diseases/acne/skin-care/tips
:format(webp)/article/jyAeMSJNWWQKTsww5DmNI/original/oxgyuax3k4vlamabftifcbhoc2yjf4k8.jpg)