Kemunculan benjolan jaringan parut yang menonjol dan menebal di area bekas luka operasi, tindik, jerawat meradang, luka bakar, atau goresan sering kali menimbulkan kecemasan. Bekas luka abnormal ini dikenal dalam dunia medis sebagai keloid. Ukurannya kerap meluas melebihi batas luka aslinya dan menetap dalam jangka panjang.
Banyak orang lantas bertanya-tanya, apakah keloid berbahaya bagi kesehatan tubuh? Secara patologis, keloid adalah pertumbuhan jaringan fibrosa jinak akibat produksi kolagen yang berlebihan selama proses penyembuhan luka, bukan merupakan tumor ganas atau kanker kulit.
Meskipun demikian, pertanyaan seputar keloid berbahaya atau tidak tetap relevan karena kondisi ini dapat memicu komplikasi fisik, infeksi sekunder, atau menyerupai tanda-tanda lesi kulit ganas lainnya. Oleh sebab itu, memahami ciri ciri keloid berbahaya sangat penting agar penanganan medis yang tepat dapat segera dilakukan.
Mengenal Berbagai Ciri-Ciri Keloid Berbahaya yang Perlu Diwaspadai
Dalam istilah medis, sebenarnya tidak ada klasifikasi formal bernama keloid berbahaya. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan kondisi benjolan yang mengalami komplikasi struktural, infeksi, atau menunjukkan perubahan bentuk abnormal.
Berikut sejumlah ciri ciri keloid berbahaya dan tanda peringatan klinis yang patut mendapatkan evaluasi dokter:
1. Pertumbuhan Ukuran Berlangsung Sangat Cepat
Perkembangan keloid umumnya berjalan lambat dalam rentang waktu bulanan hingga tahunan. Apabila benjolan yang awalnya kecil mendadak membesar secara agresif dalam hitungan minggu, kondisi ini menjadi salah satu ciri ciri keloid berbahaya yang memerlukan biopsi jaringan untuk memastikan lesi tersebut bukan sarkoma atau keganasan kulit lainnya.
2. Rasa Nyeri Menusuk atau Sensasi Terbakar yang Makin Berat
Rasa gatal ringan lazim dirasakan saat keloid sedang aktif memproduksi serat kolagen. Namun, jika timbul sensasi nyeri berdenyut yang tajam, ngilu konstan, atau rasa terbakar yang kian intens, hal ini menandakan adanya penekanan pada serabut saraf tepi di bawah kulit.
3. Terjadinya Perdarahan Spontan Tanpa Riwayat Trauma
Keloid normal memiliki lapisan epidermis yang utuh dan hanya berdarah jika tergores keras. Perdarahan spontan yang merembes tanpa adanya gesekan fisik merupakan ciri ciri keloid berbahaya yang wajib dicurigai sebagai indikasi kerusakan pembuluh darah kapiler atau kelainan kulit lain.
4. Permukaan Keloid Mengalami Ulserasi (Luka Terbuka yang Sulit Sembuh)
Lapisan atas keloid jarang sekali pecah dengan sendirinya. Munculnya borok (ulkus) atau luka basah yang tidak kunjung menutup dalam waktu lama menandakan penurunan suplai darah (iskemia jaringan) dan rentan menjadi pintu masuk kolonisasi kuman berbahaya.
5. Timbulnya Gejala Infeksi Bakteri Sekunder
Kondisi patologis makin mengkhawatirkan jika area di sekitar benjolan tampak memerah meradang, bengkak mengilap, teraba panas, mengeluarkan nanah berbau, serta disertai demam sistemik. Tanda infeksi akut ini membutuhkan intervensi antibiotik medis segera.
6. Menimbulkan Kontraktur dan Menghambat Mobilitas Fisik
Keloid berukuran besar yang tumbuh di dekat persendian seperti bahu, siku, leher, atau lutut dapat menyebabkan tarikan kulit yang kaku (kontraktur). Dampaknya, rentang gerak sendi menjadi sangat terbatas dan mengganggu produktivitas fisik harian.
7. Muncul Tiba-Tiba Tanpa Riwayat Luka Sebelumnya
Keloid sejati hampir selalu dipicu oleh luka atau peradangan kulit. Apabila benjolan padat tumbuh secara spontan di atas kulit yang sebelumnya mulus tanpa riwayat luka apa pun, pemeriksaan histopatologi oleh dokter spesialis dermatologi sangat dianjurkan untuk menyingkirkan diagnosis banding penyakit kulit lainnya.
Baca Artikel Lainnya: 5 Ciri-Ciri Keloid yang Tumbuh di Kulit
Keloid Apakah Berbahaya dan Bisakah Berubah Menjadi Kanker?
Jawaban tegas untuk kekhawatiran mengenai keloid apakah berbahaya dan berpotensi menjadi kanker adalah tidak. Jaringan keloid murni tidak memiliki sifat bermutasi menjadi sel karsinoma ganas.
Kendati demikian, sejumlah keganasan kulit seperti Dermatofibrosarcoma Protuberans (DFSP) atau karsinoma sel skuamosa dapat memiliki manifestasi klinis awal yang menyerupai keloid. Maka dari itu, mengamati setiap ciri ciri keloid berbahaya seperti pertumbuhan cepat, tepi benjolan yang tidak beraturan, dan ulserasi merupakan langkah preventif terbaik agar kesalahan diagnosis tidak terjadi.
Baca Artikel Lainnya: 10 Tips Hilangkan Keloid yang Mengganggu Penampilan
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter Spesialis Kulit?
Pemeriksaan medis terarah ke dokter spesialis dermatologi dan venereologi sangat dianjurkan apabila menemukan tanda-tanda berikut:
- Benjolan membesar tak terkendali dalam waktu singkat.
- Rasa nyeri tajam yang mengganggu kenyamanan istirahat.
- Keloid mengeluarkan darah atau cairan nanah secara berulang.
- Terbentuk luka terbuka yang sukar mengering.
- Gerakan sendi di sekitar area luka menjadi terhambat.
- Muncul keraguan terkait diagnosis pasti dari benjolan tersebut.
Meskipun secara umum kesimpulan mengenai keloid berbahaya atau tidak berujung pada sifatnya yang jinak, penanganan dini berupa injeksi kortikosteroid intralesi, terapi laser, silikon gel, hingga tindakan bedah eksisi dapat membantu meredakan keluhan fisik sekaligus memperbaiki tampilan estetika kulit.
Dapatkan Edukasi Medis dan Produk Perawatan Kulit Tepercaya!
Perluas wawasan seputar kesehatan kulit, perawatan luka, dan tips medis harian langsung dari para dokter ahli dengan mengikuti akun resmi media sosial KlikDokter di platform Instagram, TikTok, Facebook, dan kanal YouTube KlikDokter.
Untuk memenuhi kebutuhan produk kesehatan, mulai dari perban luka, gel silikon medis, hingga suplemen penunjang pemulihan jaringan kulit, kunjungi Official Shop KlikDokter. Dapatkan kemudahan belanja produk kesehatan yang aman, orisinal, dan terdaftar resmi hanya dalam satu genggaman!
- American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Overview, Signs, and Symptoms. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-overview
- American Academy of Dermatology (AAD). (2024). Keloid Scars: Diagnosis and Treatment. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/keloids-treatment
- DermNet NZ. (2023). Keloids and Hypertrophic Scars. New Zealand Dermatological Society. https://dermnetnz.org/topics/keloids-and-hypertrophic-scars
- Lu, Y. Y., Lu, C. C., & Yu, W. W. (2021). Risk of Cancer Development in Patients with Keloids: A Nationwide Population-Based Cohort Study. Scientific Reports, 11(1), 10245. https://doi.org/10.1038/s41598-021-89793-w
- Robles, D. T., & Berg, D. (2023). Abnormal Wound Healing: Keloids and Hypertrophic Scars. StatPearls Publishing. NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537058/
- Ogawa, R. (2022). The Most Current Algorithms for the Treatment and Prevention of Hypertrophic Scars and Keloids: A 2020 Update of the Asian Perspectives. Plastic and Reconstructive Surgery, 149(1), 79eβ94e. https://doi.org/10.1097/PRS.0000000000008667
- British Association of Dermatologists (BAD). (2023). Keloid Guidelines and Patient Information Leaflet. https://www.bad.org.uk/pils/keloid/
- National Health Service (NHS). (2024). Keloid Scars: Causes, Symptoms, and Management. https://www.nhs.uk/conditions/keloid-scars/
- Berman, B., Maderal, A., & Ramaswamy, R. (2017). Keloids and Hypertrophic Scars: Pathophysiology, Classification, and Treatment. Dermatologic Surgery, 43(Suppl 1), S3βS18. https://doi.org/10.1097/DSS.0000000000000819
:format(webp)/article/n8-wtkS-4b-ZG-yL8d9vJ/original/bi96em095o18a7gtwwi57egbjm1ihu30.jpg)