Ginjal dan Saluran Kemih

Efek Samping Cuci Darah: Apa Saja dan Apakah Bisa Diatasi?

Tory Diaz Alvito, 06 Okt 2026

Ditinjau oleh dr. Steven Alviano Yuwono

|★0/5.0(0 Ulasan)

Terapi hemodialisa dapat menimbulkan efek samping cuci darah seperti pusing, kram, dan hipotensi. Kenali proses, risiko, dan cara mengelolanya di sini.

Efek Samping Cuci Darah: Apa Saja dan Apakah Bisa Diatasi?

Sebelum memahami dampaknya, masyarakat perlu mengetahui apa itu cuci darah. Cuci darah atau hemodialisis merupakan prosedur medis penunjang hidup yang bertugas menggantikan sebagian fungsi filtrasi ginjal saat organ tersebut tidak lagi sanggup membuang limbah metabolik serta cairan berlebih secara mandiri.


Dalam proses cuci darah, darah pasien dialirkan keluar dari tubuh menuju mesin khusus yang dilengkapi membran penyaring buatan bernama dialyzer. Di dalam tabung dialiser inilah racun sisa metabolisme, kelebihan zat asam, dan cairan tubuh dipisahkan sebelum darah bersih dialirkan kembali ke dalam sirkulasi tubuh.


Karena proses cuci darah memicu perpindahan volume cairan dan fluktuasi elektrolit dalam waktu singkat, beberapa pasien kerap merasakan ketidaknyamanan fisik. Penting dicatat bahwa tidak semua keluhan klinis murni berasal dari efek samping cuci darah; sebagian gejala dapat timbul akibat komplikasi dari penyakit ginjal kronis itu sendiri.


Baca Artikel Lainnya: 8 Penyebab Cuci Darah yang Perlu Diketahui


Beragam Efek Samping Cuci Darah yang Kerap Terjadi

Fluktuasi cairan dan zat kimia darah selama sesi terapi dapat memicu sejumlah respon tubuh. Berikut beberapa efek samping cuci darah yang paling sering dijumpai:


1. Penurunan Tekanan Darah (Hipotensi Intradialisis)

Hipotensi mendadak merupakan salah satu efek samping cuci darah yang paling lazim dialami pasien. Kondisi ini timbul ketika penarikan cairan dari dalam sirkulasi darah berlangsung terlalu cepat melampaui kemampuan adaptasi pembuluh darah. Pasien umumnya merasakan pusing berputar, pandangan kabur, lemas mendadak, mual, hingga pingsan. Petugas medis biasanya akan segera mengatur ulang laju penarikan ultrafiltrasi mesin guna menstabilkan hemodinamik pasien.


2. Kram Otot yang Menyakitkan

Kram otot, terutama pada area betis dan telapak kaki merupakan efek samping cuci darah yang kerap timbul menjelang akhir sesi hemodialisis. Pemicu utamanya adalah penurunan drastis volume cairan tubuh serta pergeseran elektrolit natrium di jaringan otot. Menghentikan penarikan cairan sementara, melakukan peregangan perlahan, dan memberikan kompres hangat pada area yang kaku terbukti efektif meredakan keluhan ini.


3. Mual, Pusing, dan Sakit Kepala

Pergeseran tekanan darah serta ketidakseimbangan cairan secara mendadak juga memicu timbulnya efek samping cuci darah berupa mual, sensasi melayang, dan sakit kepala berdenyut. Keluhan semacam ini perlu segera dilaporkan kepada perawat atau dokter jaga agar komposisi dialisat dan kecepatan pompa darah dapat disesuaikan.


4. Sindrom Kelelahan Pasca-Hemodialisis (Post-Dialysis Fatigue)

Banyak pasien merasakan tubuh seperti kehabisan energi total selama beberapa jam sesudah prosedur selesai. Rasa lelah luar biasa ini dapat dipicu oleh proses penarikan cairan, anemia kronis akibat penurunan produksi eritropoietin ginjal, maupun stres fisik selama prosedur berlangsung.


5. Rasa Gatal pada Kulit (Pruritus Uremik)

Sensasi gatal yang menusuk di kulit sering dikeluhkan pasien dialisis. Efek samping cuci darah ini berkaitan erat dengan penumpukan kadar mineral fosfor dalam darah, kulit yang kering, serta penumpukan racun uremik yang belum tereliminasi sempurna. Penanganannya membutuhkan evaluasi kecukupan dialisis, obat pengikat fosfor, serta penggunaan pelembap kulit secara teratur.


Risiko Cuci Darah Terkait Akses Pembuluh Darah

Selain gangguan fisik selama sesi filtrasi, terdapat resiko cuci darah yang berkaitan langsung dengan akses vaskular (jalur keluar-masuk darah, seperti fistula arteriovenosa / cimino, graft, atau kateter vena sentral / CDL).


Beberapa resiko cuci darah pada akses vaskular meliputi:

  • Infeksi bakteri lokal maupun infeksi aliran darah sistemik (bakteremia).
  • Trombosis atau terbentuknya gumpalan darah yang menyumbat aliran akses.
  • Penyempitan lumen pembuluh darah (stenosis) yang membuat aliran darah ke mesin tidak optimal.


Pemantauan harian terhadap area akses sangat penting. Tanda bahaya seperti kulit memerah, bengkak, terasa panas, nyeri tekan, demam, atau keluarnya cairan nanah harus segera mendapatkan evaluasi medis darurat.


Baca Artikel Lainnya: Fakta Prosedur Cuci Darah yang Perlu Kamu Tahu


Apakah Efek Samping Cuci Darah Bisa Diatasi?

Kabar baiknya, sebagian besar efek cuci darah dapat diminimalkan melalui tata laksana yang tepat. Kuncinya terletak pada keterbukaan pasien untuk segera menyampaikan setiap ketidaknyamanan fisik kepada tim medis di unit dialisis, tanpa perlu menunggunya bertambah parah.


Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi beserta tim dialisis dapat melakukan berbagai penyesuaian klinis, seperti:

  • Menyesuaikan laju ultrafiltrasi (kecepatan penarikan cairan per jam).
  • Mengubah komposisi konsentrat dialisat dan suhu cairan dialisis.
  • Meninjau kembali target berat badan kering (dry weight) pasien.
  • Menyesuaikan durasi, frekuensi hemodialisis, serta peresepan obat penunjang.

Selain intervensi medis, kedisiplinan pasien dalam membatasi asupan garam dan mematuhi batas asupan cairan harian di antara dua sesi dialisis sangat membantu mencegah lonjakan kenaikan berat badan interdialitik, yang merupakan pemicu utama timbulnya efek samping cuci darah.


Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan Medis Darurat?

Segera cari bantuan instalasi gawat darurat apabila pasien hemodialisis mengalami tanda-tandaa komplikasi berat berikut:

  • Nyeri dada menusuk atau sesak napas berat secara tiba-tiba.
  • Penurunan kesadaran, kebingungan mental, atau pingsan yang tidak membaik.
  • Demam tinggi yang disertai menggigil hebat.
  • Perdarahan aktif yang tidak kunjung berhenti dari titik bekas tusukan jarum dialisis.
  • Tanda infeksi akut pada area akses vaskular.

Memahami apa itu cuci darah, memantau setiap efek samping cuci darah, serta mengenali berbagai resiko cuci darah sejak awal akan membantu terapi berjalan lebih aman, efektif, dan mendukung kualitas hidup pasien secara optimal.


Jaga Kesehatan Kamu dan Keluarga Lebih Praktis Bersama KlikDokter

Ingin membaca artikel lebih mudah, belanja produk kesehatan di official shop KlikDokter, atau memantau tips medis harian? Yuk, unduh aplikasi KlikDokter sekarang juga. Jangan lupa juga untuk terhubung dengan seluruh media sosial kami melalui


👉 [Kunjungi Tautan Resmi KlikDokter di Sini]

  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2024). Hemodialysis. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/kidney-failure/hemodialysis
  • National Kidney Foundation. (2026). Hemodialysis: How It Works, Types, and What to Expect. https://www.kidney.org/atoz/content/hemodialysis
  • National Kidney Foundation. (2024). Dialysis: Types, Effectiveness, Side Effects. https://www.kidney.org/treatment/dialysis
  • National Kidney Foundation. (2023). Coping with Symptoms While on Dialysis. https://www.kidney.org/atoz/content/symptoms-dialysis
  • National Kidney Foundation. (2024). Hemodialysis Access. https://www.kidney.org/atoz/content/hemoaccess
  • National Kidney Foundation. (2024). Hemodialysis and Your Diet. https://www.kidney.org/atoz/content/diet-hemodialysis
  • Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Hemodialysis Work Group. (2023). KDIGO Clinical Practice Guideline for Hemodialysis Adequacy and Complications Management. Kidney International Supplements, 13(2), 55–112.
  • Daugirdas, J. T., Blake, P. G., & Ing, T. S. (2021). Handbook of Dialysis (6th ed.). Wolters Kluwer Health / Lippincott Williams & Wilkins.
  • Flythe, J. E., Kshirsagar, A. V., & Brunelli, S. M. (2020). Intradialytic Hypotension and Vascular Access Morbidity in Hemodialysis Patients. American Journal of Kidney Diseases, 76(4), 512–522. https://doi.org/10.1053/j.ajkd.2020.03.024Sukul, N., Karaboyas, A., Csomor, P. A., et al. (2021). Self-reported Pruritus and Clinical Outcomes in Hemodialysis Patients: Findings from the DOPPS Study. Clinical Journal of the American Society of Nephrology, 16(1), 110–119. https://doi.org/10.2215/CJN.09600620

Memuat...

Ulasan Pembaca

0(0 Ulasan)